Dulu, saya sangat khawatir terkena penyakit Diabetes. Alasannya karena saya sadar porsi makan saya cukup banyak dan alm. papa saya mengidap penyakit kronis itu. Sepengetahuan saya, orang yang memiliki keturunan diabetes lebih cepat terserangnya. Karena itulah saya bermaksud untuk menjaga pola makan saya atau setidaknya mengurangi porsi makan, karena dari kecil sampai besar (supaya lebih jelasnya, dari saya TK hingga kuliah) saya sangat dimanjakan oleh mama saya untuk makan yang banyak. Setiap saya selesai makan, pasti mama saya bilang "Lho kok udahan makannya? ayo nambah lagi" (apakah mama kalian juga berkata hal yang sama?) Dan sedikit-sedikit mama saya nawarin makan. Pas saya kecil mungkin saya senang makan yang banyak. Namun seiring dengan bertambahnya usia dan kerutan di wajah, saya sadar kalau saya ini sudah cukup gemuk dan belum lagi saya ada keturunan diabetes.
Papa saya tergolong yang tidak begitu menyadari pentingnya arti kontrol ke dokter, untuk cek gula darah dan minum obat dan lainnya. Walaupun papa saya rajin olahraga, tapi kalo urusan makan papa saya tidak ingin dibatasi. Alhasil gula darah papa saya sering melewati batas, lebih dari 300 dan kadang hampir mencapai 400.
Pas saya kelas 3 SMA papa pernah pingsan. "Jantungnya ada kelainan" kata dokter. Entah apa ada campur tangan diabetes atau tidak, tapi kalau kata saya sih ada.
Puncaknya itulah, tanggal 25 Desember 2009. Papa sedang jogging sendirian dan pingsan. Karena cukup lama dibiarkan tanpa pertolongan medis, ketika dibawa ke rumah sakit, walaupun sudah dibantu dengan alat kejut dan asupan oksigen, nyawa papa tidak bisa tertolong.
Saking penasarannya, tidak lama sebelum papa meninggal, dengan pulpen pengukur gula darah digital punya papa, saya cek gula darah saya. Saya lupa hasil angkanya berapa, tapi kata papa belum sampai ke diabetes. Tapi nyerempet lah.
Sebetulnya alasan saya menulis ini karena akhir -akhir ini mama sering ngingetin supaya jangan sering-sering makan malam, makan porsinya secukupnya, jangan banyak makan yang manis-manis. Barusan juga mama telpon, di akhirnya mama bilang nasihat-nasihat yang tadi saya sebutkan.
Sedih rasanya. Kenapa? Mungkin karena perbedaan-perbedaan dulu dan sekarang. Dengan sekatnya adalah kepergian alm. papa saya.
Dulu mama saya nyuruh saya makaaan terus. Tapi kalau sekarang.. sangat berbeda.
Kadang saya suka lupa kalau papa sudah pergi. Bahkan saya masih bisa membayangkan papa masih ada di sini. Dan suaranya pun masih bisa terdengar.
Tetapi dengan perbedaan kecil seperti itu, saya semakin sadar, kalau memang alm. papa sudah benar-benar menghadap Allah.
Semoga papa dihapuskan dosa-dosanya dan dibukakan pintu surga oleh Allah. Amin.