Friday, January 8, 2010

Ordinary morning, unordinary day

Pernah ikut acara yang ada muhasabah nya? Semacam evaluasi diri, supaya tobat.
Biasanya kita dibuat menangis oleh kata-kata mereka. Dan pada umumnya, semua membawa topik yang sama. Ayah dan ibu.
Bagaimana kita selama ini memperlakukan orangtua kita. Dan bagaimana kalau sewaktu-waktu kita pulang ke rumah, namun yang menyambut kita di pagar bukan kedua orangtua kita yang tersenyum melainkan bendera kuning yang melambai pelan?

Sejujurnya, saya tidak suka hal seperti itu. Karena, satu, saya tahu saya pasti akan menangis. Dan dua, topik yang mereka gunakan selalu sama. Orangtua. Bagaimana kalau kita tidak sempat mengucapkan maaf, dan lain-lain. Gak kreatif banget.

Saya percaya, pendidikan saya akan berjalan mulus, nanti diwisuda dengan didampingi ayah ibu saya. Saya ingin membahagiakan mereka. Pokoknya itu yang selalu tertanam di alam bawah sadar. Terlepas dari bagaimana kacaunya hasrat belajar saya dan hancurnya nilai-nilai saya.

Dec 24th 09

2 PM

Saya mau pulang ke Bekasi. Liburan agak panjang, jadi banyak bawaan. Maka dari itu, saya pulang dijemput orangtua. mama papa saya datang menjemput. Saya yang belum sarapan dari pagi (kecuali makan sebatang coklat) agak uring-uringan. Jadi suasana waktu itu kurang enak. Yang naik ke kamar kosan saya hanya mama, ngecek saya sudah siap apa belum. Papa saya menunggu di mobil.
Siap semua, saya dan mama ke mobil membawa barang" yang ingin dibawa pulang.
Mobil mulai jalan meninggalkan kosan saya.

Baru duduk di mobil entah mengapa mata saya mulai berkaca-kaca.

Sudah sekitar seminggu lebih ini, saya kangen sekali rumah. Kangen mama papa saya. Dan hidup saya seminggu itu bisa dibilang mengawang-awang dan sedikit galau.

Entah, kenapa tiba" mau menangis. Saya merasa, tidak becus jadi anak. Padahal saya sudah kangen mama papa, tapi begitu ketemu langsung, saya malah tidak bersikap bersahabat. Bodohnya saya kalau saya menyalahkan perut yang belum sarapan. Dan ya saya memang bodoh.

Mobil terus melaju.. Kami bingung mau makan di mana. Saya ingin secepatnya, karena saya ingin buru-buru memperbaiki mood.
Saya betul-betul bodoh saat itu. Berujung makan siang yang merangkap sarapan di rest area. Setelah solat, saya dan mama makan. Papa entah di stand makanan mana.

Setelah selesai makan, kembali ke mobil dan kembali ke perjalanan ke rumah.

Saya membuka percakapan dengan mengumumkan nilai fisika dan kimia saya. Fisika B dan kimia saya C. Papa tanya, memang kimia susah ya? Saya jawab iya, karena kimia di kuliah ribet dan abstrak. Papa nawarin untuk ikut bimbingan belajar, tapi saya tolak dengan halus.

Setelah itu, suasana hening. Ga banyak percakapan. Dan karena saya sangat mengantuk jadi saya tidur. Sangat lelap. Begitu bangun, hujan deras. Mobil masih di jalan tol. Dan masih sepi juga. Biasanya papa saya suka membuka obrolan, atau tanya ini itu soal kuliah. Tetapi saat itu lain, mungkin karena papa sedang sakit. Tadi mama cerita, telinga papa akhir" ini sakit, mungkin terlalu banyak berenang. Yang jelas papa begitu sepi saat itu.

6 PM

saya tiba di rumah, ambil wudhu solat magrib.
Habis itu saya habiskan dengan mengurung diri di kamar bersama laptop dan kepingan dvd.
Solat isya, lalu tidur.


Dec 25th 09

4.45 AM

saya bangun tidur, ambil wudhu lalu solat subuh.
Pagi itu sangat damai. Karena masih pagi, jadi saya sempat solat rawatib. Bahkan yang biasanya saya langsung tidur sehabis solat. Kali ini saya ambil Alquran, baca, dzikir, dan menghabiskan banyak waktu di atas sajadah.

Sehabis itu, saya lanjutkan nonton dvd lagi. Saya tonton Beautiful Mind-nya Russell Crowe.
Filmnya begitu sedih.
Sekitar pukul 6.40 AM lebih, saya masih menonton itu. Tiba di bagian yang sangat sedihnya, biasalah namanya juga wanita, gampang menangis.
Ketika saya sedang menangis, tiba-tiba ada yang mengetuk pagar. Memanggil" nama saya berkali-kali.

Saya yang sedang menangis karena film, langsung ke luar. Masih agak sembab.
Ternyata itu tetangga saya. Dia bilang papa saya pingsan, sekarang di UGD.
Saya langsung memanggil mama. Panik. lalu kami bertiga ke rumah sakit.

Tetangga saya cerita, tadi dia jogging sama anak"nya, tiba-tiba ada kerumunan orang. Dia ikut melihat, dan ternyata itu papa saya. Papa saya sudah tergeletak pingsan, dan tetangga saya langsung panik cari pertolongan.

Saya yang duduk di mobil, masih shock. Karena sebelumnya saya sedang menangis karena nonton film, tiba-tiba tetangga saya datang dan 10 menit kemudian saya sedang jalan ke rumah sakit.
Saya khawatir, tapi saya pikir tidak akan kenapa", karena bulan Mei 2009 , papa juga sempat pingsan dan tidak ada nafas beberapa menit, tetapi setelah itu, selamat. Dokter bilang papa saya gula darahnya naik, dan setelah diperiksa jantungnya ada kelainan. Terlalu tebal dan berdetak lebih cepat dari umumnya.
Saya bilang pada diri saya, ga akan kenapa-kenapa wik, tenang tenang. Tapi saya sangat ingin menangis.

Tiba di rumah sakit, kami berjalan cepat, hampir berlari.
Belum sampai ke ruang UGD, di pintu luar ada kerumunan orang masih pakai baju olahraga.
Dan mereka berkata 'sabar ya'
sebuah kata yang saya tidak ingin dengar saat itu. Saya langsung cepat-cepat ke dalam.
Dan begitu tiba di UGD, terlihat papa saya sedang terbujur kaku, mulutnya sedikit menganga. Semua perlatan sudah dicabut.
Suster bilang, 'bapak sudah meninggal'
Innalillahi wainailaihi rajiun

Saya spontan langsung terisak. Mama saya lemas, langsung ambruk.

Semua seperti di TV, tampak slow motion dan sangat dramatis.
Setelah saya mengisi form ini itu, mama tinggal di rumah sakit mengurus administrasi, dan saya kembali ke rumah menyiapkan untuk jenazah.

Rasanya lebih dari sedih. Menyesal, karena seumur hidup saya tidak pernah bilang saya sayang papa.
Dan ketika saya mencium kening papa yang sudah dikafani. Sangat sakit, karena saya ga pernah cium kening papa. Dan begitu ada kesempatan, saya malah mencium papa yang sudah jenazah.

Mungkin pembaca tidak khawatir, karena papa pembaca masih sehat wal afiat. Dan dalam kasus saya itu karena ayah saya diabetes dan kelainan jantung. Tapi walau begitu, perlu diketahui kalau ayah saya sangat sehat, suka berolahraga, bahkan jauh lebih fit daripada saya. Umurnya masih 46 tahun, masih sangat muda.
Ini bukan soal ada penyakit atau tidak, ini soal menghargai waktu yang ada.

Saya bilang ini supaya pembaca bisa lebih menghargai dan menunjukkan rasa sayang sama ayah dan ibu. Kalian bisa bilang, nanti deh, ntar aja, sekarang saya belum mampu buat bilang 'saya sayang ibu. saya sayang sama ayah' secara langsung.
nanti juga sempet. Dan itu juga yang saya bilang sebelum ayah saya meninggal. Saya kira masih ada waktu, tapi saya salah.

Btw, ayah saya pagi itu berangkat olahraga pukul 5.30 am. Sesudah keluar, di mobil. ayah saya balik lagi ke rumah. Papa saya mencium dan memeluk mama. Setelah itu langsung pergi lagi. Mama agak bingung, kenapa? gak biasanya.. Hmm mungkin sudah firasat.
Seandainya saya tau, pasti saya antar papa sampai pintu. Tetapi itu pagi seperti biasa, papa olahraga itu sudah biasa. Semuanya biasa, menonton dvd, keseharian, semuanya biasa. We never know.

Innalillahi wa inna ilaihi rajiun.
My prays be with you, Dad.

1 responses:

tausendsunny said...

wieke, terharu bacanya, sampe nangis :')
dan, ayah sarah juga ada diabetes..
one day, cepat/lambat bisa jadi giliran sarah,
makasi ya wik, postingannya bener2 menyentuh dan menginspirasi :)

tetep smangat wieke, smoga almarhum ayah tenang di sisiNya, amiin..

 

Blog Template by YummyLolly.com - RSS icons by ComingUpForAir