Minggu lalu, diklat terpusat OSKM cukup seru dan penuh makna. Sayang sekali saya tidak mengabadikannya lewat gambar digital..
Sesuai kelompok, yang ganjil jadi 'si kaya' dan kelompok yang genap jadi 'si miskin'. Telah dijarkom sebelumnya, bahwa kelompok itu harus berpakaian seperti perannya.
Tugasnya adalah 'si kaya' (bukan srikaya) pergi ke tempat yang mayoritas orang-orangnya berekonomi rendah dan 'si miskin' pergi ke tempat orang-orang kaya.
Kelompok saya sendiri ditugaskan ke Pasar Kosambi. Di sana anggota kelompok membagi tugas: ada yang membantu-bantu, menawar harga, dan pura-pura kehilangan dompet jadi ingin berutang dulu. Saya pilih yang bantu-bantu.
Target saya bersama teman saya, Hapsari (STEI 2009) adalah sebuah toko makanan ringan. Setelah minta izin ke empunya toko, kami akhirnya boleh bantu-bantu. Dari mulai melayani pembeli, menimbang snack, sampai mengikat karung plastik snack yang menganga.
Saya sendiri tidak menghitung berapa lama kami bantu-bantu di sana, kira-kira 40 menit? cmiiw.
Selesai kerja, karena snacknya menggugah selera, jadi kami ingin membeli sekantung snack untuk oleh" anggota kelompok lain. Eh, pas lagi beli, tetehnya memberi kami sekantung batagor kering, sambil mengucapkan "Iya, ini karena tadi udah bantu-bantu". Kami bersikeras mau bayar, tapi teteh nya juga maksa. Belum jago ngelobby orang, jadi kalah deh. Kami menerima bayaran pada akhirnya. Sekantung batagor kering. Serasa bekerja beneran :')
Dari cerita teman saya yang pura-pura jadi orang miskin lalu terjun ke tempat orang kaya. Sangat naas. Ada yang menatap mereka dengan tatapan merendahkan, pelayan yang sombong, dan banyak hal lainnya.
Ah, realita kehidupan...
Di situlah kami melihat bagaimana beda perlakuan untuk si kaya dan si miskin. Jangan munafiklah mahasiswa. Ekonomi sekarang jelas jadi pembeda. Dan apa yang akan kita lakukan sebagai mahasiswa? Jangan membuatnya tambah buruk dengan ikut-ikut membeda-bedakan. Berkontribusilah. Jangan tutup mata.
0 responses:
Post a Comment